Telah terukir goresan goresan
Goresan tajam pada sebuah prasasti pada hidupku
Bak akar yang pupus dihanguskan oleh gejolak api
Yang tiada ampun membinasakan hingga abunya terhempas angin
Dan membiarkan asapnya menyatu dengan sang udara
Biarkan , biarkan!
Jadikan itu sebuah kartu kuning untukku
Sampai suatu ketika kutemukan lentera pada haluan hidupku
Saatku membuka mata dan ku rasakan
Hangatnya sinar sang surya menyinari galaksi bima sakti
Tanpanya bulanpun tak akan menjadi indah
Tanpanya pun tumbuhan tak mampu menghasilkan oksigen
Dan aku pun belajar dari alunan nada nada
Yang mampu mengubah garis emosi menjadi seulas senyum
Aku pun tak kalah oleh seekor gagak
Menguburkan saudaranya saat terpanah oleh tangan manusia
Aku dapat menjadi kompas bagi insan disekelilingku
Ya, ya, aku adalah sebuah tunas
Suatu saat nanti aku akan mengakhiri goresan prasati tersebut
Mengakhirinya dengan garis kaligrafis nan elok
Hingga goresan tajam hanya sebuah legenda yang tersembunyikan
Karena kumampu mencipatakan sebuah mahkota berlapiskan emas
Yang akan kutaruh pada hati kedua orang tuaku
Karena aku adalah tunas yang tak akan terkalahkan
Komentar
Posting Komentar